379.Read My Mind (The Killers)

On the corner of main street
Just tryin’ to keep it in line
You say you wanna move on and
You say I’m falling behind

Can you read my mind?
Can you read my mind?

I never really gave up on
Breakin’ out of this two-star town
I got the green light
I got a little fight
I’m gonna turn this thing around

Can you read my mind?
Can you read my mind?

The good old days, the honest man;
The restless heart, the Promised Land
A subtle kiss that no one sees;
A broken wrist and a big trapeze

Oh well I don’t mind, if you don’t mind
Coz I don’t shine if you don’t shine
Before you go, can you read my mind?

It’s funny how you just break down
Waitin’ on some sign
I pull up to the front of your driveway
With magic soakin’ my spine

Can you read my mind?
Can you read my mind?

The teenage queen, the loaded gun;
The drop dead dream, the Chosen One
A southern drawl, a world unseen;
A city wall and a trampoline

Oh well I don’t mind, if you don’t mind
Coz I don’t shine if you don’t shine
Before you jump
Tell me what you find when you read my mind

Slippin’ in my faith until I fall
He never returned that call
Woman, open the door, don’t let it sting
I wanna breathe that fire again

She said
I don’t mind, if you don’t mind
Coz I don’t shine if you don’t shine

Put your back on me
Put your back on me
Put your back on me

The stars are blazing like rebel diamonds cut out of the sun
When you read my mind


Advertisements

378.Satu Jam Bersama Letto

Hari Selasa (15.Mei.2007), Letto tampil secara live mulai jam 10 malam dari Studio 1 Indosiar Jakarta dalam acara yang bertajuk Satu Jam Bersama Letto. Tepat jam 8.45 kita sampai di Studio 1, di depan studio sudah ada Patub, Arian, Dedi, Aldi dan beberapa kru Letto. Tak ketinggalan Sabrang alias Noe yang akhir-akhir ini selalu didampingi Uchie (hhmmm… uchie sekarang udah beda dibanding waktu masih dia ausie…). Sambil nunggu acara dimulai, kita ikutan ke ruang tunggu Letto yang ada di belakang stage sambil ngobrol-ngobrol dengan anak2 Letto yang sekarang juga dah beda….

Jam 9.45 kita pindah ke studio 1 dan udah banyak penonton yang datang mengitari stage yang emang dibikin khusus melingkar selain yang duduk di tribun. Di panggung yang ditata dengan gaya gedung yang sedang dibangun, ada besi-besi penyangga beserta tukang cat-nya. Untuk posisi pemain ada di tengah-tengah dan melingkar, Patub & Arian duduk menghadap ke depan, Dedi menghadap ke belakang dengan perangkat drum-nya, additional player (Cornel dan Utha) berada di sebelah kanan panggung berseberangan dengan Arian – Patub.

Letto membuka penampilannya pas di jam 10 malam dengan Tak Bisa Biasa, Sabrang (Noe) kluar dari balik panggung dengan teriakan dari penonton, nyanyi sambil duduk di sofa sebelum pindah ke tengah stage. Lagu berikutnya lagu sinetron Sandaran Hati, U & I dan Sebenarnya Cinta.

Setelah penampilan lewat videoklip, Noe dkk kembali menggebrak lewat singel Truth, Cry and Lie yang dilatarbelakangi penampilan grafis yang memukau. Setelah itu, hadir bintang tamu yang bakal tampil bareng Letto membawakan satu lagu sinetron juga Ruang Rindu.

Lagu ketujuh yang membuat penonton semakin antusias adalah Sampai Nanti, Sampai Mati yang diiringi koreografi yang cukup memikat. Sebagai penutup, Letto memuncaki penampilan apiknya lewat lagu No One Talk About Love Tonite. Malam itu total ada 8 lagu yang diambilkan dari Album Truth Cry & Lie dibawakan Letto selama satu jam.

Untuk melihat foto-foto acara itu boleh liat di: SINI
Untuk video rekaman amatirnya:


378.Satu Jam Bersama Letto

Hari Selasa (15.Mei.2007), Letto tampil secara live mulai jam 10 malam dari Studio 1 Indosiar Jakarta dalam acara yang bertajuk Satu Jam Bersama Letto. Tepat jam 8.45 kita sampai di Studio 1, di depan studio sudah ada Patub, Arian, Dedi, Aldi dan beberapa kru Letto. Tak ketinggalan Sabrang alias Noe yang akhir-akhir ini selalu didampingi Uchie (hhmmm… uchie sekarang udah beda dibanding waktu masih dia ausie…). Sambil nunggu acara dimulai, kita ikutan ke ruang tunggu Letto yang ada di belakang stage sambil ngobrol-ngobrol dengan anak2 Letto yang sekarang juga dah beda….

Jam 9.45 kita pindah ke studio 1 dan udah banyak penonton yang datang mengitari stage yang emang dibikin khusus melingkar selain yang duduk di tribun. Di panggung yang ditata dengan gaya gedung yang sedang dibangun, ada besi-besi penyangga beserta tukang cat-nya. Untuk posisi pemain ada di tengah-tengah dan melingkar, Patub & Arian duduk menghadap ke depan, Dedi menghadap ke belakang dengan perangkat drum-nya, additional player (Cornel dan Utha) berada di sebelah kanan panggung berseberangan dengan Arian – Patub.

Letto membuka penampilannya pas di jam 10 malam dengan Tak Bisa Biasa, Sabrang (Noe) kluar dari balik panggung dengan teriakan dari penonton, nyanyi sambil duduk di sofa sebelum pindah ke tengah stage. Lagu berikutnya lagu sinetron Sandaran Hati, U & I dan Sebenarnya Cinta.

Setelah penampilan lewat videoklip, Noe dkk kembali menggebrak lewat singel Truth, Cry and Lie yang dilatarbelakangi penampilan grafis yang memukau. Setelah itu, hadir bintang tamu yang bakal tampil bareng Letto membawakan satu lagu sinetron juga Ruang Rindu.

Lagu ketujuh yang membuat penonton semakin antusias adalah Sampai Nanti, Sampai Mati yang diiringi koreografi yang cukup memikat. Sebagai penutup, Letto memuncaki penampilan apiknya lewat lagu No One Talk About Love Tonite. Malam itu total ada 8 lagu yang diambilkan dari Album Truth Cry & Lie dibawakan Letto selama satu jam.

Untuk melihat foto-foto acara itu boleh liat di: SINI
Untuk video rekaman amatirnya:


377.Mengusir Kegelapan dengan Sapu (Gede Prama)

Kategori: MOTIVATION

Seorang pengagum bintang sinetron Paramita Rusadi punya cara unik dalam mengekspresikan kekagumannya. Setiap kali bertemu wanita cantik—entah di jalan, di pasar, mal, kantor, di mana saja—ia selalu bergumam “paramita”. Namun, begitu ia melihat istrinya di rumah yang tidak pernah merawat diri, ia bergumam, “parah banget”.

Maaf. Lelucon itu hanya bunga canda yang membuat kehidupan menjadi indah, penuh tawa. Namun, inilah ciri kehidupan yang bergerak dari kegelapan menuju kegelapan. Terkait milik orang selalu penuh puji. Tetapi melihat milik sendiri selalu penuh caci. Ada saja alasan yang membuat hadiah-hadiah kehidupan yang sudah tergenggam tangan lalu terlihat tidak sempurna.

Ciri lain kegelapan adalah keseharian yang mudah marah dan tersinggung. Perhatikan di media. Semakin tinggi kadar marah publik, khususnya kepada pemerintah, semakin penting tempatnya di media. Lihat surat pembaca di media cetak, setengah lebih adalah ekspresi kemarahan. Juga tulisan atau komentar para pemuka, jika tidak marah, kecil kemungkinan mendapat perhatian publik sekaligus media.

[read more]


376.Selamat Tinggal Kebencian

Kategori: Motivation

Pernahkan menyadari apa sesungguhnya salah satu kebodohan paling besar dalam hidup ini ?
Jawabanya adalah memelihara kebencian. Ya, kebenciaan adalah sebuah kebodohan hidup yang paling besar di dunia. Karena kebencian hanya akan membunuh waktu kehidupan dan mengorbankan benih cinta, sehingga tidak bisa berkembang dalam kehidupan. Orang yang menanam dan memelihara kebenciaan dalam hatinya, ia hanya akan menuai hasil ketidaknyamanan, sakit hati dan permusuhan. Sehingga harumnya wangi bunga cinta yang ada dalam dirinya tidak dirasakan dalam kehidupan.

Namun masih banyak orang yang tidak menyadarinya kalau hatinya dikuasai oleh benih kebenciaan. Manusia yang hatinya penuh kebenciaan pada hakekatnya adalah manusia yang gagal dalam hidup, karena tidak mampu mencintai dirinya sendiri. Maka ucapkan selamat tinggal kepada benci mulai saat ini juga. Tinggalkan jauh-jauh benih kebenciaan yang akan merusak benih cinta dan kebahagiaan dalam hati Anda.

375.1st Edition (Trisum ft. Balawan)

Kategori: MUSIC

Bila menyimak album “gitar” ini maka yang terbersit dalam benak saya adalah bagaimana Tohpati dan I Dewa Gede Budjana bersama bintang tamu I Wayan Balawan tampil sebagai peracik yang terampil. Karena mereka betul-betul tampil sebagai peracik dari karakter bermain gitar yang berbeda. Mereka meracik lintas genre yang bisa ditelisik dari arransemen setiap komposisi, bayangkan betapa gak mudahnya merajut berbagai kecenderungan bermusik: ada jazz, rock, bluegrass serta etnikal.

Nah,seperti meracik sajian makanan dan minuman. Bagaimana agar makanan yang siap dicicipi tidak terlalu pedas, tidak kemanisan alias legit namun gak bikin muntah. Dan bagi Tohpati dan Budjana ini adalah persoalan yang mereka geluti dalam bermusik.

[read more]


375.1st Edition (Trisum ft. Balawan)

Kategori: MUSIC

Bila menyimak album “gitar” ini maka yang terbersit dalam benak saya adalah bagaimana Tohpati dan I Dewa Gede Budjana bersama bintang tamu I Wayan Balawan tampil sebagai peracik yang terampil. Karena mereka betul-betul tampil sebagai peracik dari karakter bermain gitar yang berbeda. Mereka meracik lintas genre yang bisa ditelisik dari arransemen setiap komposisi, bayangkan betapa gak mudahnya merajut berbagai kecenderungan bermusik: ada jazz, rock, bluegrass serta etnikal.

Nah,seperti meracik sajian makanan dan minuman. Bagaimana agar makanan yang siap dicicipi tidak terlalu pedas, tidak kemanisan alias legit namun gak bikin muntah. Dan bagi Tohpati dan Budjana ini adalah persoalan yang mereka geluti dalam bermusik.

[read more]


374.Cerita Petani

Kategori: MOTIVATION

Alkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu-satu nya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan.

Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!”. Pak tani hanya menjawab, “Malang atau beruntung? Aku tidak tahu .”

Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang-orang dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni “koleksi” kuda-kuda yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang-pedagang kuda segera menawar kuda-kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya.

[read more]