113.Lupakan Jasa & Kebaikan Diri

Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya, maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan.
Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah.
Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk.

[Selanjutnya]


Advertisements

112.Arti Memiliki

Kategori: MOTIVATION

Relationship itu suatu hal yang mengesankan dan ‘harus dipertahankan‘ jika memang udah sepadan.

Seperti kata kata berikut:

Cinta tak pernah akan begitu indah, jika tanpa persahabatan…..
yang satu selalu menjadi penyebab yang lain dan prosesnya…
adalah irreversible……
Seorang pecinta yang terbaik adalah sahabat yang terhebat.
Jika kamu mencintai seseorang, jangan berharap bahwa seseorang itu akan mencintai kamu persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama.
Satu diantara kalian akan memberikan lebih, yang lain akan dirasa kurang………..
Begitu juga dalam cinta: kamu yang mencari, dan yang lain akan menanti……

[Selanjutnya]


110.Honesty, Is Such Lonely Word

Kejujuran hanya menyakitkan bagi dia yang telah mengabaikannya.
Dalam perkumpulan-perkumpulan yang tulus dan ikhlas, Anda bisa merasakan keharuan atau kegelisahan – sesuai dengan tingkat pengabaian Anda terhadap kejujuran.


Bila Anda telah membiasakan diri dengan jalan-jalan yang tulus dan ikhlas, Anda akan berbahagia menemukan diri Anda berada dalam pergaulan yang jujur.
Tetapi bagi dia yang telah mengabaikan kejujuran – ada perasaan terbuang dan terendahkan yang menggeliat di dadanya.
Bila kebaikan masih kuat di hatinya, dia akan mendekat dan memandikan dirinya dengan air sejuk ketulusan dan keikhlasan yang sebetulnya telah lama dirindukannya.

Tetapi bila hatinya telah kaku dengan kerak penistaan atas kebutuhannya untuk menjadi pribadi yang mulia, dia akan menyingkir dengan upaya keras untuk melupakan kebaikan yang telah membuatnya gelisah.

Kejujuran adalah citra terbaik.

Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan untuk mengutamakan kemampuan yang terhormat atau kekayaan yang cacat.


Perasaan damai bersama diri sendiri datang dari kejujuran kepada diri sendiri.
Hormat kepada diri sendiri adalah pembentuk keberanian pribadi yang sebenarnya.

Hati yang jujur menghasilkan tindakan-tindakan yang jujur.

[Selanjutnya]


109.Berpikir Sejak Bangun Tidur (Harun Yahya)

Kategori: SPIRIT

Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir.
Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir.
Saat bangun tidur, rasa capai atau kantuk seakan telah sirna.


Ketika berpikir akan hal ini, ia teringat sebuah firman Allah: “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”

[Selanjutnya]


108.Kesedihan

Sudah berjalan demikian lama dalam peradaban manusia, di mana kesedihan berdiri sebagai musuh atau penyakit yang menakutkan.
Amat dan teramat sedikit orang yang merindukan kesedihan.
Stres, sedih, penyakit dan bahkan depresi itulah rekan-rekan yang diyakini dibawa kesedihan setiap kali ia berkunjung.
Tidak ada teman lain.
Sehingga bisa dimaklumi, kalau kemudian kesedihan duduk dalam kursi musuh yang hanya layak ditakuti.
Tentu saja akan menimbulkan perdebatan yang panjang, kalau tiba-tiba secara antagonistis ada yang berucap, “Kalau kesedihan adalah kawan yang amat menawan.”

Terlepas dari perdebatan terakhir, kesedihan memang kerap membawa luka-luka.
Salah-salah, kesedihan juga yang bisa membawa manusia tergelincir ke dalam luka-luka jiwa yang menakutkan.
Hampir semua manusia yang mengalami luka-luka jiwa awalnya dibukakan pintu oleh kesedihan.
Kesedihan, kekecewaan dan wajah emosi sejenislah yang menjadi pembuka pintunya.
Tentu mudah dipahami kalau banyak orang kemudian menakutinya.

Sayangnya, setakut apa pun manusia sama kesedihan, sejauh apa pun manusia lari dari kesedihan, sehebat apa pun alat pelindung yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuat manusia absen sepenuhnya dari kesedihan.
Datang dan datang lagi, itulah perilaku kesedihan.
Entah dia datang untuk tujuan apa pun, kalau saatnya datang, ya, datang.
Ada sahabat yang memberi judul kejam akan hal ini, sebab tidak menyisakan pilihan lain.

Belajar dari kenyataan dalam bentuk tidak ada pilihan lain inilah, kemudian ada sejumlah penekun kejernihan yang mencoba membuka wajah-wajah lain dari kesedihan.
Ternyata, tidak semua wajah kesedihan itu buruk.
Sebagian wajah kesedihan malah membukakan pintu-pintu kemuliaan.
Dalam kondisi kelelahan mengalami kesedihan, seorang pejalan kaki di dunia kejernihan pernah sampai dalam kesadaran, kalau kesedihan hanyalah petunjuk adanya kedangkalan.
Semakin dangkal pemahaman seseorang akan kehidupan, semakin sering kesedihan berkunjung.
Makna ini sekaligus memberikan masukan, kesedihan datang untuk menggali dalam-dalam sumur pemahaman.

Agak sulit membayangkan ada kedalaman pemahaman akan kehidupan, tanpa melalui perjalanan panjang akan kesedihan.
Tanpa kesedihan, meminjam istilah seorang guru, yang tersisa hanya swimologi.
Belajar berenang hanya dengan memandang gambar kolam renang.
Tentu saja tidak bisa berenang ujungnya.
Menyelam dalam di tengah kolam renungan seperti inilah, kemudian mulai ada orang yang berterimakasih akan kunjungan kesedihan.
Bukan karena mau gagah-gagahan, sekali lagi bukan.
Melainkan karena hanya kesedihan yang bisa memperdalam kolam-kolam pemahaman.
Dalam bahasa lain, kesedihan adalah salah satu saklar yang menghidupkan cahaya-cahaya jiwa.


107.Seandainya

berharap dari suatu peristiwa yang sudah terjadi
untuk tidak menjadi mimpi
tetapi berubah menjadi suatu senyuman abadi kenyataan pasti

menekan perasaan untuk suatu yang pasti sulit untuk dimiliki,
berharap untuk bertemu embun yang menyejukan hati…
seandainya…….

janganlah berhenti berharap,
karena hanya harapan yang menjadi penyemangat hati yang sudah mulai beku
beku karena dinginnya orang yang dikasihi….
seandainya…….

seandainya waktu bisa kembali…
pasti segalanya menjadi lebih pasti dan berarti…….
seandainya tidak ada ada luka dihati
pasti tidak ada yang harus diamini
memahami bukan berarti menyakiti
mengerti bukanlah dengan buaian emosi
seandainya……..

seandainya boleh tidak ada airmata….
kan kugapai indah matanya
aku hanya ingin ungkapkan sejujurnya
ada satu kata yang tidak terucap diantara kita,
yang berujung pada perasaan yang sama

106.Cara Bahagia

Kategori: MOTIVASI

Jiwa yang sejahtera menggambarkan seberapa positif seseorang menghayati dan menjalani fungsi-fungsipsikologisnya. Peneliti psycho-logical well-being, Ryff (1995) menyatakan, seseorang yang jiwanya sejahtera apabila ia tidak sekadar bebas dari tekanan atau masalah mental yang lain.
Lebih dari itu, ia juga memiliki penilaian positif terhadap dirinya dan mampu bertindak secara otonomi, serta tidak mudah hanyut oleh pengaruh lingkungan.

ADAKAH manusia yang tak ingin bahagia?

[SELANJUTNYA]

105.Leadership

Leadership is not magnetic personality-that can just as well be a glib tongue. It is not “making friends and influencing people”-that is flattery. Leadership is lifting a person’s vision to higher sights, the raising of a person’s performance to a higher standard, the building of a personality beyond its normal limitations – Peter F. Drucker.

Leadership is the special quality which enables people to stand up and pull the rest of us over the horizon – James L. Fisher.

Leadership is the challenge to be something more than average – Jim Rohn

No organization is stronger than the quality of its leadership, or ever extends its constituency far beyond the degree to which its leadership is representative – Edgar Powell.

The nation will find it very hard to look up to the leaders who are keeping their ears to the ground – Winston Churchill

Leadership should be more participative than directive, more enabling than performing – Mary D. Poole.

To lead the people, walk behind them – Lao-tzu

Leaders don’t force people to follow-they invite them on a journey – Charles S. Lauer

When the leadership is right and the time is right, the people can always be counted upon to follow-to the end and at all costs – Harold J. Seymour

It is better to have a lion at the head of an army of sheep, than a sheep at the head of an army of lions – Daniel Defoe