005.Beda Pendapat

Adalah Andi dan Marsudi, dua orang sahabat yang kebetulan bekerja di satu lembaga dan dipercaya menjadi pimpinan di situ.Dalam keseharian mereka adalah sosok yang layak untuk dijadikan panutan anak buah.

Mereka juga bekerja sama untuk memajukan lembaga tempat mereka bekerja.Yang namanya manusia, tak luput dari cobaan atau ujian. Dalam satu kegiatan, mereka berbeda pendapat.
Terjadi adu argumen sengit yang ternyata mereka tidak berhasil menyatukan pendapat.Tidak seperti biasanya, Andi kali ini begitu bersikeras mempertahankan pendapatnya dan sangat keras pula menyerang pendapat Marsudi.
Hari-hari berikut Andi terlihat menjauhi Marsudi. Beda pendapat sudah mulai meningkat menjadi perasaan “salah dan benar”, artinya Andi yang benar dan Marsudi yang salah.Saat berikutnya hampir semua anggota lembaga tersebut menyokong pendapat Marsudi, Andi tetap tidak mau mengubah sikapnya, bahkan menjadi memusuhi Marsudi. Marsudi sendiri tetap bersikap tenang dan tidak menunjukkan sikap yang serupa kepada Andi.
Dia menganggap bahwa Andi sedang emosi saja.
Nanti kalau semua reda, menurut Marsudi, Andi akan baik seperti sedia kala.Ternyata harapan Marsudi tidak menjadi kenyataan, Andi makin memusuhi Marsudi, tatkala pelaksanaan gagasan Marsudi dirasa makin menjauhkan Andi dari “kenyamanan” yang diperolehnya selama ini.
Pendapat-pendapat Andi hampir selalu tidak disepakati oleh para anggota lembaga. Kebencian Andi kepada Marsudi makin memuncak.Waktu berlalu, dan akhirnya Andi harus mengakui bahwa pendapat Marsudi memang benar dan terbukti mampu mengangkat lembaga ke tempat yang lebih baik.
Tetapi kebenciannya sudah menutup mata hatinya, sehingga dia tetap enggan untuk mengakui. Akhirnya sungguh tragis, karena dia memutuskan keluar dari lembaga dan bekerja di tempat lain.Sungguh satu gambaran buram tentang pemahaman beda pendapat.
Terkadang (sering malah), bahwa kita dengan pengetahuan yang terbatas sudah meng”claim” beda pendapat sebagai kasus benar dan salah, yang artinya kita yang selalu benar dan orang lain yang salah.
Ketidakmampuan mengemas beda pendapat ternyata mampu mendorong kita terjerumus dalam perangkap “kebencian yang membuta”.
Dalam posisi seperti itu, kita menjadi sulit menerima fakta yang mendukung kebenaran orang lain.
Pokoknya….., demikian isi kepala kita penuh dengan dogma “membenarkan diri sendiri”.Itulah yang saat ini menguasai sebagian besar kita di Indonesia.
Hal itu nampak dari riuh rendahnya masalah yang muncul dari hari ke hari semakin banyak dan semakin kisruh.
Demokrasi ternyata malah mengangkat perselisihan yang tidak perlu karena kita belum berhasil mengemas beda pendapat secara positif, syarat mendasar berlangsungnya kehidupan berdemokrasi.Semoga wacana ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua untuk dapat meningkatkan kemampuan memahami beda pendapat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s