The Happiness, Wealth and The Thankful.

“When we succeed, we are thankful. When we fail, we are also thankful. The happiness and wealth are in the thankful attitude itself. [Saat sukses kita bersyukur. Saat gagalpun kita bersyukur. Sesungguhnya kebagiaan dan kekayaan sejati ada pada rasa bersyukur.]”

Dari tagline yang kami pasang minggu ini kita dapat gambarkan beberapa contoh cerita yang membangkitkan rasa bersyukur kita pada Maha Pencipta kita meskipun dalam keadaan gagal.

Kita pernah denger jokes mengenai: “Untung buntung, kalo gak buntung pasti buntung deh“.

Critanya ada seorang yang cacat dengan kaki yang buntung satu sedang nyebrang tiba-tiba ada mobil ngebut dan hampir nabrak orang tersebut.
Tongkat yang dia bawa terpelanting dan dia jatuh.
Posisi kaki yang buntung tersebut kebetulan pas kena ban.
Tapi alhamdullah orang tersebut gak cidera sedikitpun. Akhirnya dia berujar: “untung buntung… kalo gak buntung pasti buntung deh“.

Crita lain mengenai sang direktur dan soirnya.
Begitu memasuki mobil mewahnya, sang direktur tanya pada sopir pribadinya, “Gimana kira-kira cuaca hari ini?”.
Si sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”
Merasa penasaran dengan jawabannya, direktur ini tanya lagi, “Gimana kamu bisa begitu yakin?”.
Supirnya menjawab, “Gini, pak, saya udah belajar bahwa saya tak slalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya salu menyukai apapun yang saya dapatkan”.

Jawaban singkat tadi merupakan wujud rasa syukur.
Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting.
Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia.
Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita.
Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada 2 hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang diinginkan, bukan pada apa yang dimiliki. Misalnya sudah punya rumah, mobil, kerjaan tetap, dan pasangan yang cocok, tapi masih merasa kurang maka pikiran akan dipenuhi berbagai target dan keinginan.
Kita begitu terobsesi oleh rumah yang gede, mobil mewah, serta kerjaan dengan gaji gede.
Kita ingin yang lebih…. Jika tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.
Tapi anehnya, meski udah didapatkan, kita hanya menikmati kesenangan sesaat.
Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi.

Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya.
Orang yang “kaya” bukanlah orang yang punya banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmatinya.
Tentunya sah-sah aja punya keinginan, tapi perlu menyadari kalo inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki aja dan bersyukurlah dan nikmati hidup.

Kita pernah denger kata-kata, “Nikahlah dengan orang yang dicintai, setelah itu cintailah orang yang dinikahi tersebut.”

Ada crita lain yang menarik tentang seorang kakek yang mengeluh karenagak bisa beli sepatu, padahal sepatu lamaanya udah rusak.
Suatu saat ia melihat seseorang yang tak punya kaki, tapi tetap ceria karena masih bisa mempergunakan tangannya.
Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai mengucap syukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
Istilahnya “rumput tetangga kelihatan lebih hijau dibanding rumput halaman sendiri”.
Kita merasa orang lain lebih beruntung.

Ada crita lagi mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam,”Lulu, Lulu.”
Seorang pengunjung heran dan pada dokter.

Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.”
Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat kamar lain ia terkejut lihat penghuninya terus-terusan memukulkan kepalanya di tembok dan teriak, “Lulu,Lulu“! .
Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?”tanya lebih heran lagi.
Dokter itupun njawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”…

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir tentang seorang ibu yang sedang terapung dilaut karena kapalnya karam, namun tetep bahagia.
Kenapa begitu?

Saya mempunyai 2 anak laki-laki, yang pertama udah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalo berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

(rose.01.12.2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s