Humor Pagi

BOSS DAN PELAMAR

Boss : “Nama saudara siapa?”
Pelamar : “Prawojo pak …”
Boss : “Coba ceritakan tentang keluarga saudara !!…”
Pelamar : “Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya…, Orang Tua saya tinggal di Surabaya…,
Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo…, Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang…, Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal…”
Boss : “Apakah saudara dapat berbahasa Inggris?”
Pelamar : “Yes .. sir ..”
Boss : “Now tell me about your family in English !!…”
Pelamar : “Sorry sir .. I don’t have family in English…, they’re all living in Indonesia”

TEACHER AND STUDENT (1)

Teacher : “Where were u born?”
Student : “Singapore, Sir.”
Teacher : “Which part?”
Student : “All of me, Sir.”

TEACHER AND STUDENT (2)

A teacher was asking her class: “What is the difference between ‘unlawful’ and ‘illegal’ ?”
Only one hand shot up. “Ok, answer, Joan,” said the teacher.
“‘unlawful’ is when u do something the law doesn’t allow and ‘ill-egal’ is a sick eagle… sir”

TOOTH EXTRACTION

Patient : “How much to have this tooth pulled?”
Dentist : “$90.00”
Patient : “$90.00 for just a few minutes work???”
Dentist : “I can extract it very slowly if you like…”

NUBRUK BULE

Seorang cewek yang bahasa Inggrisnya kacau-balau suatu hari nubruk seorang bule ketika jalan-jalan di mall.
Cewek : “I’m sorry.”
Bule : “I’m sorry, too.”
Si cewek bingung. Doi ngerasa harus ngejawab tuh bule.
Cewek : “I’m sorry, three.”
Bule : “What are you sorry for?”
Cewek : “I’m sorry, five.”

BIS

Suatu malam seorang lelaki yang sedang mabuk naik bis dan duduk di sebelah perempuan berumur. Si nenek memandangnya dari atas ke bawah, kemudian berkata, “Tahu nggak, kamu akan ke neraka!”
Si lelaki melompat kaget dan berteriak, “Stop…kirriii. Salah naik bis!!!.”

DARI MANA DULU ?

Penjaga kolam menghampiri seorang anak lelaki dan menegurnya, “Kamu tidak boleh kencing di kolam renang ini, mengerti?!”
Dengan wajah tak mengerti si anak berkata, “Tapi semua orang kan pada kencing di kolam??”
Penjaga mencoba bersabar, “Iya, memang.

Tapi kencingnya tidak dari atas papan loncat.”

Mengenali Emosi Anak

Kini orang tua semakin peduli dengan karakter anak, sejak mulai dipopulerkannya konsep kecerdasan emosi oleh Daniel Goleman di tahun 1995.
Para orang tua semakin sadar dan yakin bahwa keberhasilan anak tidak lagi cukup dengan ketrampilan teknis dan pengetahuan ilmiah, namun juga dengan kemampuan pengendalian diri dan hidup bermasyarakat.

Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi.

Langkah pertama mengajarkan kecerdasan emosi adalah mengenalkan berbagai jenis emosi kepada anak.
Bagaimana caranya?

Tips sederhana dalam mengajarkan kecerdasan emosi adalah dengan sering menyebutkan berbagai jenis emosi kepada anak.
Misalnya anak sedang cemberut, maka sebagai orang tua kita dapat menegaskan situasi emosi tersebut kepada anak, misalnya dengan menanyakan, “Adik cemberut, apa sedang kesal? Adik kesal apa karena Ibu melarang nonton TV?” Dengan demikian anak dipandu untuk terbiasa mengenali kondisi emosi dirinya dan penyebab munculnya emosi itu.

Cara lain adalah dengan menunjukkan berbagai gambar, atau mengomentari situasi baik di majalah, TV, maupun media lainnya.
Misalnya ketika melihat TV di mana ada tokoh yang sedang sedih karena dinakali oleh tokoh lainnya (hal ini sering muncul di film kartun), maka kita berkomentar, “Aduh, kasihan sekali si anu, pasti dia sangat sedih karena tindakan nakal temannya itu..” Hal yang sama dapat dilakukan pula saat membaca dongeng.
Orang tua perlu berkali-kali menyebutkan situasi emosi para tokoh dalam cerita tersebut.
Selain memperkenalkan berbagai jenis emosi, pada saat yang sama anak juga belajar hal-hal yang menyebabkan munculnya emosi tersebut, misalnya perasaan sedih salah satu tokoh cerita karena ditipu atau dihina tokoh yang lain.
Orang tua juga dapat pula memberikan penilaian moril atas situasi tersebut, misalnya menghina adalah suatu perbuatan buruk dan jahat, sehingga anak menjadi tahu nilai moril dari suatu perilaku.
Dalam hal ini secara langsung kita juga telah mengembangkan kecerdasan spiritual anak (kecerdasan dalam mengenali dan mengelola nilai-nilai).

Ketika orang tua marah, sedih, bingung, kesal, gembira, dan situasi emosi lainnya, orang tua juga perlu menyampaikan alasannya.
Misalnya, seorang anak bermain dan tidak membereskan mainannya setelah selesai, sang Ibu bisa berkata, “Adik, Ibu sangat kesal melihat mainan yang berantakan, karena Ibu menjadi repot membereskannya.
Ibu akan senang kalau Adik membantu Ibu membereskan mainan sendiri.” Dengan pernyataan itu sang anak akan belajar mengenali situasi emosi ibunya (kesal), sebab munculnya (mainan berantakan), dan mengapa sebab tersebut menyebabkan munculnya emosi tertentu (kesal karena repot membereskannya).
Perlu ditunjukkan ekspresi yang sesuai dengan emosi saat melatih anak kecil (kalau kesal ya jangan tersenyum, namun tunjukkan wajah serius dan cemberut).
Semakin dewasa nanti semakin mungkin menyampaikan emosi dengan ekspresi yang berlawanan misalnya dalam bentuk sindiran (kesal, namun tersenyum).

Apabila anak sedari dini usia telah sering dilatih untuk peka dalam mengenali emosi, maka semakin dewasa akan semakin mudah mengenali emosi, dan akhirnya dapat menyesuaikan sikapnya dengan situasi emosi yang ada.

The Power Of Give

Yakinlah bahwa dengan MEMBERI, semuanya akan lebih mudah….
Dan yang pasti MEMBERI itu jauh lebih mudah daripada menuntut.

Lihatlah para pekerja yang melakukan pekerjaannya dengan pro-aktif (memberi lebih).
Lihatlah para ibu yang memberikan kasih sayang, perhatian yang tulus.
Lihatlah para hartawan yang dermawan

Alangkah indah dunia ini, jika semua mau MEMBERI…..
Sulitkah? Mahalkah?
Tidak! Sekali lagi tidak! itu sangat mudah, mulailah MEMBERI dengan apa yang ada, walau sekedar senyum yang tersungging tulus, ataupun uluran tangan nan ikhlas, do’a yang memberi semangat…

Bukankah jika kita MEMBERI satu kebaikan akan diganjar dengan 700x kebaikan?
So, tunggu apalagi

Efek Kakus

Ada sebuah lelucon yang sederhana bahwa kalo kita telah menderita selama dua tahun, maka akan terbiasa dengan penderitaan itu dan tak memikirkannya lagi.
Hal inilah yang disebut sebagai efek kakus. Kok namanya jorok sih? Nggak kok kita tiap hari pasti ke sana.


Artinya gini nih, kalo kita masuk ke dalam kakus atau toilet pasti mencium bau yang tidak sedap, tapi setelah masuk selama sepuluh menit, maka tak akan merasa mencium bau itu lagi karena udah terbiasa dengan bau tidak sedap itu, malahan ada orang yang cari inspirasi ngebikin lagu or tulisan atau curi-curi kesempatan ngrokok di kakus.
Inget si Reke “Oneng” Dyah Pitaloka malah nulis kumpulan puisinya yang dikasih judul Kloset dapet inspirasi juga dari situ.

Yang penting dalam hidup adalah bagaimanapun sengsaranya kita, betapapun beratnya pekerjaan kita tetapi setelah mengerjakannya dalam kurun waktu yang cukup lama, kita akan terbiasa.
Kalo mau manfaatin pengetahuan ini ‘en maksain diri untuk bekerja lebih keras, menerima tugas lebih banyak, kalo satu orang bisa ngerjain tujuh kerjaan, kenapa tak dikerjain selama sembilan hari aja.
Kalau kita udah biasa ngerjain sembilan kerjaan setiap hari dan tidak tujuh hari lagi, maka selama 5 bulan berturut-turut kita akan menjadi terbiasa.
Hal itu bukan sesuatu yang berat buat kita. Cobalah untuk manfaatin hal ini dengan sedikit maksain.
Kalau biasanya kerja ampe jam 16.30 WIB, coba paksain tambahin dikit dulu jam kerjanya jangan Tenggo tapi jangan kebanyakan ntar ketiduran di kantor.
Setelah lewat beberapa bulan tak akan terasa berat.

Ada crita di Jepang seseorang brangkat kerja selalu naik kereta api, lalu dilanjutkan naik bis dan total memakan waktu satu setengah jam untuk perjalanan berangkat.
Di Jepang hal itu sudah menjadi biasa.

Mereka sudah terbiasa dan tidak merasa terlalu sengsara kalo tiap hari di jalan selama 3 jam (tapi di Jakarta juga udah biasa karena jalanan macet kali..!).

Crita itu juga salah satu contoh dari efek kakus bahwa kalau seseorang sudah melakukan sesuatu dengan kebiasaan dan terbiasa, maka dia tidak akan merasa sebagai hal yang sengsara.
Kenapa kita tidak memanfaatkan pengetahuan ini untuk berbuat hal yang positif dengan sedikit maksain diri dalam melakukan tugas-tugas?

Hingga kita lebih bisa sukses lagi dan lebih giat bekerja.

Rumah Masa Depan

Siang itu matahari bersinar cukup garang menyirami pekuburan mengiringi jenazah almarhum rekan tempat saya bekerja.
Tanah merah yang kering menjadi berdebu diterpa angin yang bertiup kencang.
Perlahan-lahan tubuh almarhum mulai dimasukan kedalam liang lahat.
Sanak famili yang datang tertunduk haru bahkan ada yang tak tertahankan tangisnya.
Setelah jenazah diletakan di dalam lubang dan tali pengikat kafan dilepaskan para penggali kubur menutupinya dengan tanah dan diatasnya ditanamkan batu nisan.


Itulah akhir episode kehidupan seorang anak manusia yang telah habis masa hidupnya di dunia dan mulai memasuki kehidupannya yang baru di alam kubur.
Terbayang olehku gelapnya alam kubur, Ya Allah sanggupkah tubuh yang penuh dengan debu dosa dan maksiat ini menghadapi kepengapan, kesempitan dan kesunyiannya?
Belum lagi mahluk-mahluk kecil yang siap menjelajahi tubuh ini hingga perlahan-lahan menghancurkannya dan menyisakan tulang belulang.

Tak ada lagi gemerlap kehidupan dunia, mobil yang kita miliki tidak ikut masuk ke dalam lubang ukuran 2 x 1 m di kedalaman 2 m, deposito dollar, saham perusahaan, tanah 1000 hektar, istri yang cantik, jabatan semuanya kita tinggalkan.
Ya Allah jadikanlah kubur sebagai pengingat diri dari berbuat zhalim dan melanggar perintah-MuKubur adalah rumah masa depan kita, rumah yang seharusnya kita persiapkan jauh-jauh hari.

Kalau untuk rumah di dunia saja kita sibuk ambil kredit, mati-matian menabung bahkan tidak jarang ada yang bela-belain korupsi hanya untuk mendapatkan rumah.
Lantas kenapa untuk peristirahatan yang abadi kita malah lalai bahkan lupa?.
Ya Allah, jadikanlah sisa umur ini menjadi usia yang penuh manfaat dan keberkahan sehingga menjadi penolongku nanti.Ingatkah waktu hendak membangun rumah kita sibuk merancang arsitektur, pondasi, bangunan fisik dan interiornya?

Begitu cermatnya kita hingga tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk mewujudkannya.
Lalu bagaimana dengan rumah masa depan kita?
Sudahkah kita merancang arsitektur ibadah kepada Allah, lalu kita gali diri ini dengan ilmu untuk memperkokoh pondasi keimanan dan ketakwaan, kemudian kita bangun tiang-tiangnya dengan shalat khusyu nan ikhlas disertai dinding amal sholeh serta kebaikan, dan tak lupa menutup atap rumah kita dengan infaq di jalan Allah.

Ya Allah, seandainya kau cabut nyawaku saat ini juga jadikanlah sebagai akhir yang baik dan mudahkanlah.

Humor Gus Dur

Gak Boleh Pesawat, Ya Kereta

Gus Dur pantas dijuluki mantan Presiden Indonesia paling aktif.
Bagaimana tidak? Sehari dia bisa menjelajahi separuh NKRI. Subuh ada di Jakarta, Dzuhur di Makassar, Maghrib sudah di Jakarta lagi.
Atau Subuh di Jakarta, dua jam kemudian ceramah di Surabaya, Gresik atau Sidoarjo, jam 11 siang sudah kembali ke kantornya di gedung PBNU Jakarta.
Tentu saja, cepatnya mobilitas Gus Dur itu berkat ditemukannya teknologi modern yaitu pesawat terbang.
Jika pencipta pesawat terbang Wright Bersaudara masih hidup, mungkin mantan Ketua Umum PBNU ini akan mertamu untuk menyampaikan kekagumannya.
Kemungkinan itu bukan tidak mungkin.

Akibat kekagumannya, pernah saat mengunjungi Brasil di tahun 2000, Gus Dur berniat mertamu ke rumah tokoh pendidikan dunia yang dikaguminya: Pastor Dom Helder Camara. Namun sayang, Pastor Camara sudah wafat beberapa bulan sebelum Gus Dur datang.

Kembali ke pesawat terbang. Burung besi itu bagai rumah Gus Dur ketiga, setelah kediamannya dan mobil yang mengantarnya kluyuran.
Sebagian besar waktunya dihabiskan di ketiga tempat itu.
Karenanya, sembuh dari sakit yang mengharuskan Gus Dur ngamar 2 minggu di dua rumah sakit, dokter pun mengeluarkan travel warning: “Gus Dur tak boleh naik pesawat”.

Maksud dokter sih, ‘menghadang dengan cara halus’ mobilitas yang melelahkan sang tokoh demokrasi itu, agar paling jauh Gus Dur cuma sampai Bogor.
Soalnya kalo Gus Dur langsung dilarang, dia akan bilang; “wong saya gak pa-pa kok.”
Jadi digunakanlah alasan tadi. Gus Dur pun berjanji akan mematuhinya.

Syahdan, datanglah undangan ceramah ke Surabaya pada Sabtu (13/8/2005).
Gus Dur menyambut gembira undangan itu, karena itu adalah kesempatan untuk bertatap muka dengan umatnya.
Dokter mencium rencana itu, Gus Dur pun diingatkan soal larangan naik pesawat.
“Iya Pak Dokter…,” kata Gus Dur menepati janjinya.
“Bagus…,” kata dokter.


Belum usai tarikan napas lega sang dokter, Gus Dur menimpali: “Tapi saya sudah punya tiket kereta.”

Doa, Usaha & Jawaban Tuhan

Alkisah Ibrahim a.s. mendapat wahyu untuk meninggalkan istri dan anak bayinya di dekat reruntuhan rumah Adam a.s.
Sebuah lokasi yang kering dan sangat sepi.
Tak perlu menunggu lama untuk sampai pada keadaan dimana air susu mengering dan bekal air pun habis.
Si bayi mulai menangis, maka paniklah Hajar, sang ibu, berusaha menemukan air untuk pelega haus anaknya.

Tampak di kejauhan, di bukit Shofa kilauan air.
Hajar berlari ke sana dengan tenaga yang lemah.
Ternyata hanya fatamorgana. Tidak ada air.
Lalu tampak di kejauhan, di bukit Marwa, kilauan air.
Maka Hajar pun berlari sekuat tenaga ke sana. Tak juga ada. Hanya fatamorgana.

Berulangkali kemudian hajar berlari ke Shofa, Marwa, Shofa, Marwa, hingga tujuh kali… saat…
Si bayi, Ismail yang menangis dengan keras terus menjejak-jejakkan kakinya tiba-tiba terdiam. Dari bekas jejakan-jejakan kaki mungil itu mengalirlah air yang jernih.

Maha besar Allah penguasa langit dan bumi! Ternyata lewat kaki yang kecil itulah jalan diturunkannya air di lembah gersang itu.
Sumur zamzam, selama ribuan tahun kemudian terus memberikan kehidupan di lembah Mekkah.

Tugas manusia untuk menyempurnakan doa dan usaha.
Tuhan menjawab dengan caraNya yang halus, terkadang tampak jauh dari keberadaan usaha itu.

6 Kunci Kepemimpinan

Tidak sekedar mengagumi orang-orang sukses, tapi kita juga harus belajar untuk melakukan apa yang mereka lakukan, dengan kata lain, menggunakan falsafahnya untuk membangun bisnis kita sendiri.

Ada enam hal penting yang perlu kita perhatikan bila kita ingin sukses dalam memimpin.

Pertama, control your destiny or someone will.
Intinya adalah kalau tidak dapat mengontrol tujuan hidup kita sendiri, maka orang lain lah yang akan mengontrol kita.
Artinya, perlu kemauan untuk sukses, maju, tahu apa yang menjadi cita-cita dan berjuang sendiri ke sana.
Karena kalau tidak, hidup kita akan ditentukan oleh orang lain.

Kedua, face reality as it is. Not as it was or as you wish it were.
Kita harus mau menghadapi kenyataan seperti apa adanya.
Bukan seperti apa yang kita harapkan atau bukan seperti yang kita bayangkan di masa yang lalu.
Sekarang adalah sekarang, kemarin adalah kemarin.
Jangan terus menerus membanggakan kesuksesan yang sudah lalu ataupun menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan anda.
Tidak ada kata kalau saja, yang penting kenyataan hari ini apa.
Itu yang perlu kita hadapi.
Semua output yang muncul adalah hasil dari reaksi anda atas keadaan ini.

Ketiga, be candid with everyone.
Kita harus jujur kepada semua orang.
Kita harus mau terbuka kepada semua orang.
Kalau karyawan kita jelek, katakanlah jelek.
Kalau ia baik pujilah dia dan berilah motivasi untuk menjadi lebih baik.

Keempat, don’t manage lead.
Jangan menyuruh orang saja, tetapi pimpinlah orang untuk mencari solusi dan jalan terbaik. Karena kalau kita masih saja berpikir tentang hal-hal yang kecil, maka kita tidak akan pernah maju untuk berpikir tentang hal-hal yang besar untuk bisnis kita.

Kelima adalah changes before you have to.
Berubahlah sekarang sebelum kita terpaksa berubah.
Kalau kita lihat, sebuah perubahan yang dilakukan karena terpaksa hasilnya tidak akan pernah maksimal.
Tetapi kalau perubahan itu kita lakukan karena kita ingin atau menjadi lebih baik, biasanya hasilnya jauh lebih maksimal.
Karena itu anda harus berubah dan siap berubah setiap saat, bukan hanya saat kita terpaksa berubah karena tuntutan keadaan.

Keenam, if you don’t have a competitive advantage, don’t compete.
Artinya, kalau kita tidak punya kelebihan di banding orang lain di bidang itu, maka jangan pernah bersaing.
Kita harus punya kelebihan secara apapun, baik secara sifat me-manage, cara mengelola dan lain-lain.
Kita harus lebih dari orang lain, barulah bisa berkompetisi dan bersaing dengan orang lain.
Kalau kita tidak mempunyai kelebihan dari yang lain, lebih baik mundur dari bidang itu dan mencari bidang yang lebih dikuasai.

Milik Anda, Belum Tentu Rizki Anda

Ada yang kaya, tapi sakit.
Kekayaannya tidak dapat dia nikmati.
Ada yang tidak punya kendaraan, tiba-tiba dapat tumpangan.
Tidak memiliki, namun mendapat manfaat dari milik orang lain.

Sering orang mengatakan mencari rizki dengan maksud mencari uang. Itu benar. Lebih benar lagi bila meyakini bahwa rizki tidak selalu berbentuk uang.
Kesehatan, kepandaian, tumpangan, cinta, semua merupakan rizki.
Sesuatu yang bisa kita ambil manfaatnya adalah rizki bagi kita.
Sebaliknya, sesuatu yang tidak bisa kita ambil manfaatnya atau kenikmatannya, maka itu belum menjadi rizki.

Seseorang beli rumah, namun tidak pernah dapat dia singgahi (misalnya ini rumah ke dua), maka belum disebut rizki.
Baru disebut sebagai milik. Jadi, sesuatu yang menjadi milik, belum tentu menjadi rizki.
Mana yang kita cari, rizki atau milik?
Tentu saja keduanya sama pentingnya.
Memiliki sesuatu berarti berpotensi mendapat manfaat dari sesuatu itu dengan lebih leluasa. Memiliki berarti mempunyai kuasa kemerdekaan untuk mengambil manfaat.

Yang merugi adalah seseorang yang memiliki sesuatu namun kurang mendapat manfaat darinya.
Artinya barang itu tidak menjadi rizki.
Misalnya seseorang yang mengumpulkan banyak uang.
Lalu uang itu hanya ia simpan. Maka ia kurang mendapat rizki.
Uang tersebut baru menjadi rizki ketika dia gunakan untuk membeli sesuatu, dia sedekahkan misalnya, atau dia pinjamkan sebagai modal bagi orang lain.
Dengan dipinjamkan misalnya, uang itu menjadi rizki buat yang ditolong karena dapat dijadikan modal usaha, dan menjadi rizki bagi yang menolong karena memberi pahala.

Yang tragis adalah seseorang yang menumpuk-numpuk harta, lalu dia sakit, lalu hartanya dipakai istrinya menyeleweng, dan dipakai anaknya narkoba.
Ini betul-betul milik yang luput jadi rizki.
Hartanya luput jadi rizki, istrinya luput jadi rizki, anaknya pun luput jadi rizki.
Di sisi lain banyak juga orang yang sedikit memiliki namun banyak rizki.
Misalnya karena berada di dekat sebuah bank, maka rumah seseorang ikut terjaga oleh satpam bank tersebut.
Tidak punya rumah, eh disuruh tunggu rumah sesorang yang punya banyak rumah.
Mau sekolah, eh dapat beasiswa.
Nggak bisa beliin baju buat lebaran, eh anaknya pengertian bahkan menghibur orang tuanya. Itu semua wujud rizki dari Tuhan.

Nah, biar milik Anda segera menjadi rizki, maka pakailah, gunakanlah, ambil manfaatnya, baik untuk diri sendiri maupun untuk menolong orang lain.
Barulah milik itu mempunyai nilai sebagai rizki.

Work Hard, Work Smart

Bekerja keras itu adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk mencapai sukses. Tapi yang tidak kalah pentingnya, kita juga harus melakukan kerja keras kita dengan benar juga.
Kadang-kadang banyak orang yang bekerja keras luar biasa pada cara, tujuan atau pendekatan yang salah, sehingga tidak pernah sukses dan pada akhirnya putus asa.
Kalau orang bilang practice makes prefect, tetapi kalau imperfect practice (practice yang tidak benar) yang anda lakukan, maka hasinya tidak akan pernah perfect.

Ada sesuatu yang lebih dari sekedar bekerja keras, tapi bekerja dengan smart, atau smart working.
Kita bisa melihat kegiatan kita sehari-hari.
Mungkin bertahun – tahun kita sudah bekerja keras, pukul 7 pagi udah pergi kantor jam 9 malem baru pulang.
Apalagi kalau ada makan malam dengan klien, lembur, luar kota, dan lain-lain.
Tapi kenapa kita masih belum sukses juga?

Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah yang kita lakukan itu udah benar?
Sudah tepatkah cara yang kita lakukan itu untuk mencapai sesuatu kesuksesan?
Kata orang, “effort is the single most overrated trade in producing success“.
Bekerja keras dianggap oleh orang-orang akan selalu membawa sukses.
Padahal, sukses itu tak datang hanya dari kerja keras saja, tapi dari banyak faktor lain seperti efisiensi, arah yang kita tuju, persiapan, kebenaran, produk dan kesempatan yang timbul.

Ada sebuah perusahaan yang cukup bagus dan ramai.
Suatu ketika perusahaan itu membuka cabang satu, dua bahkan hingga lima.
Dengan bekerja luar biasa, kenyatannya perusahaan tersebut tambah rugi.
Dia heran kenapa? Setelah dianalisa, ternyata produk yang dijual profit-nya sedikit.
Lalu dia mulai berpikir, bagaimana caranya memperbaiki situasi ini. Ini yang penting.

Kadang-kadang kita harus berhenti bekerja keras untuk mau berpikir lebih tenang dan masuk ke pemikiran dan mempertanyakan pada diri sendiri.
Apa yang harus saya perbaiki? Apa yang salah pada apa yang saya lakukan?
Karena dengan hanya bekerja keras saja tidak akan membawa sukses.
Tetapi bekerja keras dengan benar, mau menganalisa diri, melihat orang lain, belajar dari semua lini dengan benar, barulah Anda dapat mencapai sukses.
Ini sangat penting, dan walaupun semua orang tahu, kadang-kadang kita melupakannya karena rutinitas harian kita.
Maka apapun yang Anda lakukan sama dengan apa yang anda lakukan kemarin, tidak pernah dianalisa lagi.
Maka hasilnyapun akan kurang lebih sama dengan yang Anda hasilkan dulu.

Kalau kita ingin melakukan perbaikan, kita harus melakukan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang dulunya belum pernah kita lakukan.
Jangan hanya sekedar menjalankan rutinitas hidup.
Melakukan rutinitas yang sama bahkan akan lebih berbahaya, karena setelah lewat 5 atau 10 tahun kita baru sadar kalau telah salah.

Maka cobalah ambil sepotong waktu meski hanya satu atau dua jam untuk berpikir dengan tenang.
Lalu mengevaluasi terhadap apa yang sudah kita lakukan selama ini.

Tidak hanya sekedar bekerja dengan keras, tetapi juga bekerja dengan benar.