Efek Kakus

Ada sebuah lelucon yang sederhana bahwa kalo kita telah menderita selama dua tahun, maka akan terbiasa dengan penderitaan itu dan tak memikirkannya lagi.
Hal inilah yang disebut sebagai efek kakus. Kok namanya jorok sih? Nggak kok kita tiap hari pasti ke sana.


Artinya gini nih, kalo kita masuk ke dalam kakus atau toilet pasti mencium bau yang tidak sedap, tapi setelah masuk selama sepuluh menit, maka tak akan merasa mencium bau itu lagi karena udah terbiasa dengan bau tidak sedap itu, malahan ada orang yang cari inspirasi ngebikin lagu or tulisan atau curi-curi kesempatan ngrokok di kakus.
Inget si Reke “Oneng” Dyah Pitaloka malah nulis kumpulan puisinya yang dikasih judul Kloset dapet inspirasi juga dari situ.

Yang penting dalam hidup adalah bagaimanapun sengsaranya kita, betapapun beratnya pekerjaan kita tetapi setelah mengerjakannya dalam kurun waktu yang cukup lama, kita akan terbiasa.
Kalo mau manfaatin pengetahuan ini ‘en maksain diri untuk bekerja lebih keras, menerima tugas lebih banyak, kalo satu orang bisa ngerjain tujuh kerjaan, kenapa tak dikerjain selama sembilan hari aja.
Kalau kita udah biasa ngerjain sembilan kerjaan setiap hari dan tidak tujuh hari lagi, maka selama 5 bulan berturut-turut kita akan menjadi terbiasa.
Hal itu bukan sesuatu yang berat buat kita. Cobalah untuk manfaatin hal ini dengan sedikit maksain.
Kalau biasanya kerja ampe jam 16.30 WIB, coba paksain tambahin dikit dulu jam kerjanya jangan Tenggo tapi jangan kebanyakan ntar ketiduran di kantor.
Setelah lewat beberapa bulan tak akan terasa berat.

Ada crita di Jepang seseorang brangkat kerja selalu naik kereta api, lalu dilanjutkan naik bis dan total memakan waktu satu setengah jam untuk perjalanan berangkat.
Di Jepang hal itu sudah menjadi biasa.

Mereka sudah terbiasa dan tidak merasa terlalu sengsara kalo tiap hari di jalan selama 3 jam (tapi di Jakarta juga udah biasa karena jalanan macet kali..!).

Crita itu juga salah satu contoh dari efek kakus bahwa kalau seseorang sudah melakukan sesuatu dengan kebiasaan dan terbiasa, maka dia tidak akan merasa sebagai hal yang sengsara.
Kenapa kita tidak memanfaatkan pengetahuan ini untuk berbuat hal yang positif dengan sedikit maksain diri dalam melakukan tugas-tugas?

Hingga kita lebih bisa sukses lagi dan lebih giat bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s