Kematian, Gurunya Kehidupan

Ada banyak pemikir yang telah mencoba menjelaskan apa itu kehidupan.
Dari ide yang mengatakan bahwa hidup itu sebuah misi, hidup itu sebuah perjalanan spiritual, hidup itu penuh dengan misteri, sampai dengan pendekatan yang menyebutkan bahwa hidup harus dinikmati.
Bagi mereka yang mengagumi pendekatan rasionalistik, tentu saja semuanya mau dijelaskan dengan rasio manusia.

KarlMarx – yang pernah menulis bahwa agama adalah sebuah bentuk pelarian manusia dari dirinya sendiri – tentu saja berbeda dengan penulis Celestine Prophecy yang menyebutkan, bahwa setiap kejadian dalam hidup menghadirkan makna.
Pendekatan manapun yang Anda setujui, sebagian warna kehidupan memang tidak sepenuhnya dibawah kontrol kita.
Lahir, mati, jodoh, rezeki hanyalah sebagian dari warna kehidupan yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan rasio.

Penulis novel Celestine Prophecy benar, bahwa semua kejadian mengandung makna.
Hanya saja, untuk sampai pada penemuan makna tadi, kita memerlukan usaha sengaja untuk belajar.
Ada atau tidak ada guru (dalam pengertian biasa), sebenarnya momentum belajar hadir setiap hari dalam kehidupan.
Di rumah, di kantor, dijalan, dan di tempat mana saja sebenarnya hadir learning moments. Pertanyaannya,maukah kita berefleksi dari semua yang hadir di depan mata kita ?

Saya menghargai cara hidup Anda, tetapi bagi saya amat dan teramat penting untuk bertanya di setiap kejadian, apa makna di balik semua kejadian ini ?.
Berpasangan kerja dengan orang yang super keras kepala, bagi saya adalah kursus kedewasaan yang amat efektif, tinggal di daerah yang macet menghadirkan nilaibelajar berupa latihan kesabaran setiap hari, ‘terdampar’ dalam profesi sebagai pemberi inspirasi bagi orang lain, mendidik diri ini untuk selalu lebih bisa melaksanakan apa yang saya omongkan dibandingkan orang lain.

Dalam totalitas, hidup plus kejadian-kejadiannya sebenarnya rangkaian cermin dan refleksi.
Dalam bingkai refleksi seperti ini, ketika saya kehilangan salah seorang sahabat saya 19 Desember 1999 lalu, di tengah perasaan duka yang mendalam ini saya dibombardir pertanyaan : makna apa yang dihadirkan oleh kematian sahabat saya diumurnya yang masih muda ini ?

Stephen Covey memang pernah mengajarkan untuk menggunakan kematian sebagai titik untuk menarik garis ke depan, untuk kemudian membayangkan secara terus menerus :kita mau dikenang seperti apa di saat badan kita tidak bernyawa lagi ?
Terusterang, saya berutang banyak ke Covey dalam hal ini.
Satu spirit dengan Covey, tidak ada guru kehidupan yang lebih efektif dibandingkan dengan kematian.

Lebih-lebih kematian orang-orang yang amat dekat dengan kehidupan kita.
Tidak ada manusia yang berdoa agar kehilangan orang-orang dekat yang amat dicintainya.
Tidak ada orang yang bisa menghindari kematian. Siapapun manusianya, di depan kematian ia hanya sebuah mahluk yang amat tidak berdaya.
Dalam ketidakberdayaan terakhir, hanya manusia bebal yang tidak mau berguru pada kematian.
Setiap kali melayat, apa lagi kehilangan orang dekat, ada gunungan pertanyaan reflektif yang menghadang saya.
Kenapa harus dia yang meninggal ? Kenapa diumurnya yang masih muda ? Kenapa harus sekarang ? Kenapa, kenapa dan kenapa ?
Dan, semuanya hanya rangkaian pertanyaan yang tidak dan tidak akan pernah ada jawabannya.
Akan tetapi, berbeda dengan pertanyaan dalam ilmu pengetahuan yang lebih berguna kalau ada jawabannya, justru karena tidak ada jawaban absolutnya inilah, maka kematian akan terus menjadi guru amat reflektif dalam kehidupan.
Itulah sebabnya saya mau tinggal di perumahan yang setiap kali pulang pergi mesti melewati kuburan, senang datang dan berlama-lama di tempat orang yang meninggal atau sedang masuk unit gawat darurat.
Kendati saya sempat stres berat dengan kehilangan sahabat, tetapi saya harus…

(Oleh: Gede Prama)

Andai Ini Ramadhan Yang Terakhir

wahai dikau…renungkanlah engkau akan nasib diri
wahai qalbu…sedarkah engkau akan gerak hati
wahai akal…terfikirkah engkau akan apa yang bakal terjadi
andai ini merupakan Ramadhan yang terakhir kali
buatmu sekujur jasad yang bakal berlalu pergi
tatkala usia bernoktah di penghujung kehidupan duniawi
apabila tiba saat tepat seperti yang dijanji Ilahi
kematian…adalah sesuatu yang pasti

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu siangnya engkau sibuk berzikir
tentu engkau tak akan jemu melagukan syair rindu
mendayu..merayu…kepada-NYA Tuhan yang satu
andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu sholatmu kau kerjakan di awal waktu
sholat yang dikerjakan…sungguh khusyuk lagi tawadhu’
tubuh dan qalbu…bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil… menangisi kecurangan janji
innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil ‘alamin
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku…
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekelian alam]

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kau sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kau dendang…bakal kau syairkan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu malammu engkau sibukkan dengan
berterawih…berqiamullail…bertahajjud…
mengadu…merintih…meminta belas kasih
“sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi…aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU”
oleh itu duhai Ilahi…kasihanilah daku hamba-MU ini

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu dirimu tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kita buru…kita cari…suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

andai kau tahu ini Ramadhan terakhir
tentu engkau bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri…rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan …lorong-lorong ridha Ar-Rahman

duhai Ilahi….
andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah ia Ramadhan paling berarti…paling berseri…
menerangi kegelapan hati-hati kami
menyeru ke jalan menuju ridha serta kasihsayang mu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

namun teman…
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi dirinya
yang mampu bagi seorang hamba itu hanyalah
berusaha…bersedia…meminta belas-NYA

Cintaku Padamu Teman

Sebagian merasa hidup ini tidak akan pernah mencapai maknanya tanpa kehadiran seorangpun teman.
Teman adalah orang-orang yang dicintainya dan yang mencintainya pula
Orang-orang yang dengan keluasan hati menerima dirinya apa adanya, tanpa bumbu dan banyak cela.
Menyayangi teman, sama sekali bukan berarti menafikan kecintaan kepada yang lain

Kecintaan kepada keluarga, kepada diri sendiri, sebab tiap-tiap jendela cinta memiliki ruangan tersendiri di hati yang tidak akan mampu disamakan dengan cinta-cinta lain
Yang kesemuanya tidak saling berhimpit tidak pula bersinggungan.
Namun tiap-tiap kecintaan mengisi bilik-bilik hati yang berbeda-beda.
Kesemua cinta hendaknya merupakan suatu refleksi cinta kepada Allah SWT.
Suatu pendaran keemasan dari keimanan, desiran sejuk angin kerinduan, dan deburan tegar ombak keistiqomahan.

Teman, bagiku kata itu adalah ungkapan kerinduan dan sejuta harapan.
Harapan untuk dapat saling menegur dan meneguhkan.
Membuang jauh-jauh kata perbedaan dan mencoba untuk mengawali segalanya dari kesamaan. Pada kata itu kutemukan hakikat hidup dan kehidupan, karena bersamanya aku menahan derita dan sengsara, gundah dan gulana, namun begitu manis terasa segala kerutan layar perjuangan karena Allah lah yang telah membuatnya.
Teman, bertemankan jiwa-jiwa yang ber-izzah mulia dan ghiroh menggelora, dengan segudang ide dan idealisme yang Robbani.
Meniti jembatan yang sama, dengan tekad yang serupa dan seragam kebesaran jiwa.
Bukan untuk sekedar menghabiskan sisa minuman kehidupan dunia, tapi hidup untuk sebuah cita yang takkan pernah kandas sia-sia.

Pantas saja jika Rosulullah mewasiatkan agar kita menjadikan mereka yang sholeh sebagai teman kepercayaan.
Ah teman, harus kita terima bahwa berteman bukan berarti untuk selalu bersama secara harfiah
Suatu saat pasti kita akan terpisah pula.
Menempati lini-lini berbeda di setiap sudut kehidupan, agar setiap insane dapat tersentuh cahayaNya

Hari Ini Adalah Abadi

Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu anda khawatirkan.

Yang pertama: hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan;
dan mengulangi kegembiraan yang kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.

Yang kedua: hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; biarkan saja.

Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah hari ini.
Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya.
Karena yang ada hanyalah hari ini;
Hari ini yang abadi.

Lihat lah kuman yang di seberang lautan …

“Kuman di seberang lautan kelihatan sedangkan gajah di pelupuk mata nggak kelihatan
“Kira-kira gitu deh bunyi pepatah yang pernah saya denger dari orang tua saya dulu yang arti nya mudah melihat kesalahan orang sedang melihat kesalahan kita ndak pernah bisa kita lihat.

Begitu mudah nya kita menilai dan melihat orang lain tanpa kita bisa melihat dan menilai bagaimanakah kita ?.
Kita mungkin sering bilang “saya memang tidak sempurna …” tapi apakah itu “jujur dari dalam sini ?!?” (nyontek iklan ponds :D).

Ask yourself about it !.

Diam Itu Emas?

Lebih baik diam jika memang tidak tau, daripada ngomong jadi nya kaya sok tau.

Banyak berbicara hanya akan membuat mulut banyak mengeluarkan dusta, jadi ?
Perbanyak lah diam dan hanya berbicara akan hal yang bermanfaat.
Kita tidak akan dianggap hebat karena banyak berbicara, dan tidak akan dianggap bodoh jika kita diam atau mengatakan “tidak tau” kepada hal yang sebenar nya kita memang tidak tau.
Perbanyaklah bicara yang mengeluarkan kata-kata hikmah, daripada hanya membicarakan kejelekan orang lain.
Orang yang diam akan lebih kelihatan berwibawa ketimbang orang yang banyak bicara tapi ngasal.
Kurangilah berdebat, karena itu hanya akan mengeras kan hati dan membuat kita sombong.
Akuilah kesalahan karena orang tidak akan hina karena mengakui kesalahan, namun segeralah minta maaf dan berusaha memperbaiki kesalahan itu.

Gede Prama: Every Day I Love U

Karena kecintaan pada keluarga, ada sebagian kegiatan mereka yang harus saya ikuti secara agak intensif.
Salah satu dari kegiatan tersebut adalah ikut menikmati musik-musik mereka.
Belakangan, ternyata saya menemukan kesenangan tersendiri.
Sebagian lirik-lirik lagu kesenangan ABG ini, ternyata menggugah hati dan kalbu.
Salah satunya adalah lagu Boyzone dengan judul Every Day I Love You.Saya kira, kegiatan mencintai setiap hari tidak hanya menjadi monopoli anak muda semata.

Ia adalah fundamen paling dasar kehidupan setiap orang.
Bedanya hanya terletak pada siapa dan apa yang dicintai saja.
Anak muda mencintai pacar mereka.
Kita yang sudah dewasa memiliki banyak sekali orang maupun hal yang layak untuk dicintai.
Lebih-lebih bagi mereka yang hidup dengan the path of heart.
Apa saja yang lewat di depan mata layak dan perlu untuk dicintai.

Pohon yang rubuh layak untuk ditegakkan.
Puntung rokok yang dibuang sembarangan perlu dipindahkan ke tempatnya.
Keran air yang lupa dimatikan orang lain di tempat umum, tidak salah kalau dimatikan.
Orang tua yang naik bus umum amat sopan kalau diberi kesempatan duduk.
Memasuki sebuah pintu di tempat umum, akan lebih terhormat kalau memegangi pintu sambil mempersilahkan orang lain untuk lewat.Yang jelas, dengan sedikit kejernihan, hidup ini sebenarnya menghadirkan samudera dan langit luas tempat mengekspresikan cinta setiap saat.
Keliru kalau ada orang banggapan bahwa hidupnya miskin cinta.
Bagaimana bisa menyebut diri miskin cinta kalau setiap detik – sekali lagi setiap detik – hidup dalam samudera dan langit yang dipenuhi dengan cinta.Coba perhatikan lebih detail.
Udara yang kita hirup adalah buah cinta.Makanan yang kita makan juga hasil dari cinta tulus ibu pertiwi.
Air yang kita minum melalui siklus cinta tanpa pamrih.
Rumah yang kita tempati, mobil yang kita kendarai, jalan yang kita lalui semuanya adalah buah cinta.

Kita lahir dari Ibu dan Bapak yang sesedikit apapun pasti mengenal cinta.
Apa lagi rezeki, ia adalah bukti cinta Tuhan yang paling konkrit.
Benang merahnya, hidup dan kehidupan sebenarnya bergelimang cinta di mana-mana.Setiap bentuk unsur pembentuk hidup dan kehidupan sebenarnya mengandung cinta.
Demikian juga dengan badan dan jiwa kita.Tantangannya, karena badan dan jiwa ini kompleks dan terdiri dari banyak sekali unsur, maka ada kalanya cinta menjadi unsur yang memimpin, ada saatnya ia dipimpin oleh kekuatan lain.

Dinamika dalam diri, sebenarnya hasil tawar menawar antara cinta dengan unsur lainnya.
Sebagaimana tawar menawar lainnya, ada saatnya cinta menang, ada kalanya ia kalah.
Sehebat dan semurni apapun kehidupan seseorang, pasti saja pernah ditandai oleh tunduknya cinta pada kebencian misalnya.Persoalannya sekarang, bagaimana agar cinta bisa menjadi kekuatan yang lebih banyak menangnya dibandingkan dengan kalahnya ?
Anda boleh berargumen lain, namun bagi saya selama jantung masih berdetak, tubuh dan jiwa ini akan selalu ditandai oleh dinamika antara cinta dan bukan cinta.
Tidak akan pernah kita bisa membuat tubuh ini menjadi seratus persen cinta dan nol persen bukan cinta.

Keduanya akan senantiasa menjadi penghuni kehidupan selamanya.
Namun, sebagaimana pernah diyakini Confusius, kita bisa menempatkan cinta lebih banyak sebagai pemenang melalui kebiasaan-kebiasaan.
Sebab, diri ini mirip dengan tanah liat yang kita bentuk melalui kebiasaan-kebiasaan.Bertolak dari sini, membuat hidup yang bergelimang cinta setiap hari sebagaimana lagu Boyzone sebenarnya bukan tidak mungkin.
Ia mungkin dan bisa diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan.
Dan setiap detik kehidupan sebenarnya kesempatan untuk mewujudkan hidup yang bergelimang cinta.Persoalannya hanya dua, segera memulainya dan lakukan dengan penuh keseriusan.

Tantangan dan godaan pasti akan hadir setiap saat dia mau datang.
Namun, tempatkan tantangan dan godaan tadi sebagai bagian untuk memperkuat cinta, bukan sebaliknya.Anda boleh menyebut kehidupan seperti ini seperti neraka, tetapi saya menyebutnya sebagai benih-benih tumbuhnya cinta.

Di mana bunga cinta yang indah dan harum, tidak tumbuh di atas bunga yang harum juga, melainkan tumbuh di atas tai sapi yang kerap berbau amat tidak sedap

Bulan Kasih Sayang

Ciri keutamaan orang tua adalah memberi keteladanan dan memberi perhatian lebih kepada anak-anak.
Apalagi di bulan ramadhan.
Awali dengan evaluasi apa yang kurang dan apa yang harus dipertahankan dalam mendidik anak.
Kita tidak boleh malu minta maaf kepada anak sekiranya kita ada salah.
Lalu juga tingkatkan perhatian khusus dengan nasihat yang isinya merupakan cermin kasih sayang, bukannya dengan kemarahan.

Tapi pada prinsipnya, rumah tangga di bulan ramadhan ini harus menjadi sarana evaluasi bersama.
Dan buatlah juga program bersama bagaimana untuk menciptakan keluarga yang menyenangkan.
Untuk perubahan perilaku anak, jika anaknya lebih satu maka evaluasi-lah satu persatu.
Kita juga bisa membuat target-target yang bisa dilakukan oleh semua anak.

Tarawih bersama, buka bersama dan sahur bersama bisa jadi momentum untuk curhat-curhatan bersama sehingga anak-anak bisa merasakan adanya orang tua untuk memberikan nasihat dengan cara yang sangat baik.
Selain mengecek kemampuan membaca Al-Qur’an, juga sebaiknya kita bekali anak-anak untuk menjadi ahli sedekah.
Menjelang maghrib latihlah menyiapkan untuk buka, bukan saja untuk orang tua tapi juga untuk tetangga dan teman-teman.
Jangan biarkan anak membesar tanpa kasih sayang orang tua.

Karena bulan ramadhan adalah bulan kasih sayang.

Tak Sesulit Yang Anda Bayangkan

Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar.
Dan seorang petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar itu.
Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar batu itu.
Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik.
Hari ini mata bajaknya pecah lagi.

Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu.
Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawahbatu.
Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu biasa.
Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira.

Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya dengan mudah dan cepat.

Renungan:
Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu, persoalan itu mudah sekali diatasi.
Maka, atasi persoalan anda sekarang.
Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum tentu sesulit yang anda bayangkan.